Tarian Gambyong Warnai Siraman Di Air Terjun Sedudo

NGANJUK – Tradisi dan budaya peninggalan leluhur masih terus dilestarikan oleh bangsa Indonesia salah satunya di Nganjuk. Pemerintah dan masyarakat menggelar tradisi upacara Prana Prasthista atau lebih kenal dengan siraman air terjun sedudo.

Tradisi yang digelar setiap tahun menyambut satu suro ini terus dikembangkan dengan tujuan melestarikan budaya dan memberikan daya tarik wisata. Tradisi upacara prana prasthista atau upacara proses pengambilan air terjun sedudo ini dengan sajian tarian gambyong yang terdiri dari enam penari yang masih gadis.

Usai tarian kedua belas gadis dan pejaka mulai masuk ke air terjun untuk mengambil air langsung dari jatuhnya air terjun. Air langsung dibawa dan dijadikan satu ke sebuah tempayan besar untuk disimpan dan diabadikan di Pendopo Kabupaten Nganjuk.

Dari sisi sejarah dan budaya siraman sedudo ada sejak jaman kerajaan majapahit dan kejayaan islam. saat itu air terjun sedudo sering digunakan untuk mencuci senjata pusaka milik raja dan patih dalam prana pratista.

Sementara di zaman kerajaan islam  sedudo sangat dikenal sebagai kawasan pertapaan ki ageng ngaliman yaitu tokoh pelopor penyebaran agama islam pertama kali di Nganjuk sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

Di samping guna melestarikan budaya dan tradisi dengan prosesi siraman yang digelar setiap bulan suro ini diharapkan semua warga Nganjuk mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segala mala petaka serta hasil pertanian akan melimpah.

Ritual diakhiri dengan mandi bareng di air terjun oleh pejabat pemerintah dan warga dari berbagai daerah serta pengambilan air dan bunga yang ada di air terjun.

 

Komentar
READ  Siswa Tewas Diduga Jatuh Dari Tangga

Baca Juga

Leave a Comment