Warga Di Lokasi Tambang Hanya Bisa Santap ‘Karag’

PONOROGO – Polemik penutupan tambang batu gamping yang ramai diberitakan dan juga menjadi perbincangkan hangat di media sosial mengundang kepedulian sejumlah masyarakat. Ini setelah di lokasi terlihat kondisi ekonomi para pekerja tambang semakin tidak karuan.

Di sebuah rumah hanya berdinding bambu yang berukuran 4 x 3 meter dan berlantai tanah inilah kondisi salah satu korban penutupan tambang yang di lakukan pemerintah. Bahkan secara terang-terangan pasangan Suwito dan Sariyem ini mengaku sudah menekuni pekerjaan tambang secara tradisional selama 35 tahun.

Meski telah bekerja puluhan tahun namun penghasilan sebagai buruh angkut batu ini habis untuk kebutuhan hidup sehari hari. Sungguh ironis masih adanya rakyat yang menderita seperti ini namun pemerintah daerah Ponorogo justru menutup dan akan mendirikan pabrik di lokasi ini.

Kini Suwito mengaku pasrah dengan kondisi saat ini. Bahkan ia hanya bisa mengencangkan ikat pinggang agar rasa kelaparan bisa ditahan. Sebab setelah ada penutupan tambang dirinya bersama istrinya hanya bisa makan nasi basi yang di keringkan atau biasa dikenal nasi karag. Keluarga ini harus berhemat agar tidak kelaparan pasca tambang ditutup dan dijadikan pabrik tambang gamping.

Komentar
READ  Lho..! Uang Puluhan Juta Di Rekening Bank BRI Raib

Baca Juga

Leave a Comment