Upacara Kebo Ketan Edukasi Warga Cinta Alam Dan Persatuan

KAB. NGAWI – Ratusan seniman menunjukkan aksi kreatifnya dalam Upacara Kebo Ketan, di kabupaten Ngawi. Pagelaran  budaya yang disimbolkan dengan memandikan dan penyembelihan kerbau raksasa, bertujuan untuk mengedukasi warga mencintai lingkungan, dan mengajak warga menjaga persatuan bangsa.

Sebuah Boneka Jerami, dibakar ratusan seniman saat pagelaran Upacara Kebo Ketan di kawasan mata air Sendang Margo desa Sekar Putih kecamatan Widodaren Ngawi. Pembakaran boneka ini, merupakan bentuk perlawanan para seniman terhadap penebangan hutan liar. Selanjutnya, sebuah patung kerbau raksasa diarak dan dimandikan di Sendang Margo, salah satu mata air yang nyaris mati, karena terdampak penebangan hutan liar, pada awal reformasi.

Nasib mata air ini, menjadi keprihatinan Bramantyo Prijo Susilo, seniman Ngawi, yang kemudian melahirkan seni kejadian pernikahan jin dan manusia. Kejadian heboh, itu kemudian melahirkan Upacara Kebo Ketan, yang nantinya akan mengajak semua pihak, menyelamatkan sungai Bengawan Solo yang telah tercemar.

Patung kerbau raksasa, menjadi simbol perjuangan para seniman, untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Kerbau binatang yang akrab, dengan akar budaya masyarakat mataraman, yang juga dipengaruhi corak Kebudayaan Jawa Timur, Jawa Tengah,dan  Yogyakarta. Pada puncak acara, patung kerbau dibawa ke tengah lapangan desa Sekar Putih, untuk disembelih. Pagelaran kesenian di lapangan ini, temanya  berubah dari lingkungan menjadi sosial. Kolaborasi budaya nusantara, begitu kental dalam setiap pertunjukan, dengan tujuan  mengajak warga menjaga persatuan bangsa.  Seni kejadian berdampak itu banyak menyita perhatian warga dan wisatawan yang sudah dua hari mengikuti jalannya prosesi Upacara Kebo Ketan.

Usai penyembelihan kerbau, masyarakat diajak makan ketan bersama-sama, sebagai simbol ketahanan pangan. Langkah ratusan  seniman, di Apresiasi Kementrian Polhukam, karena mengedukasi warga menjaga keutuhan NKRI.

READ  Cari Anggota TNI Hobi Dugem Hingga 5 Oktober

Seni kejadian berdampak ini, bukanlah suatu pagelaran  belaka, melainkan sebuah  gerakan sosial,  yang mengajak masyarakat bertingkah laku positip. Pagelaran budaya ini, sebagai bentuk kritik 873 seniman terhadap mata air yang nyaris mati dan pencemaran sungai Bengawan Solo. Komunitas seniman, juga mengirimkan surat kepada 17 pemerintah kabupaten atau kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, untuk mengurangi  pencemaran sungai Bengawan Solo.

Komentar

Baca Juga

Leave a Comment