Hari Nyepi, Ogoh-Ogoh Diarak Lalu Dibakar

KAB. MAGETAN – Tawur Kesanga atau Upacara Bhuta Yadnya menjadi salah satu acara perayaan nyepi umat Hindu di Pura Sanggha Bhuana kabupaten Magetan. Umat hindu yang datang dari berbagai daerah, seperti Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Magetan, merayakan nyepi di pura yang berada di kawasan Lanud Iswahyudi Magetan ini.

Dalam rangkaian ritual nyepi menyambut tahun baru Saka 1940 ini, umat Hindu juga mengarak ogoh-goh. Dua raksasa yaitu Buto Kala dan Buto Ijo, diarak keliling pura Sanggha Buana yang ada di Lanud Iswahyudi Magetan.

Dua raksasa ini sebagai simbol unsur sisi buruk atau sisi kejahatan yang harus dihindari oleh setiap manusia. Simbol sifat binatang yang harus dijauhi oleh manusia, menuju sifat manusiawi.

Menurut Cening Sutarna, Pemangku Pura Sanggha Buana, ogoh-ogoh merupakan salah satu budaya atau hiburan saat perayaan hari raya nyepi. Diaraknya ogoh-ogoh, sebagai simbol untuk mentralisir energi negatif di sekitar pura menjadi energi positif.

Setelah diarak keliling Pura berputar berlawanan dengan arah jarum jam, ogoh-ogoh kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh dilakukan saat pergantian dari siang ke malam.

Usai diarak keliling Pura Ogoh-Ogoh kemudian dibakar saat pergantian dari siang ke malam.

Hari raya nyepi ini diharapkan bisa menjadi bahan perenungan atas perbuatan yang dilakukan selama setahun terakhir, meminta ampunan kepada Tuhan agar menjadi manusia yang lebih baik.

Komentar
READ  Bocah Ngesot Ingin Kursi Roda Dan Bersekolah

Baca Juga

Leave a Comment