Anomali Cuaca, Petani Melon Merugi

NGAWI – Beginilah kondisi tanaman melon milik para petani, di Desa Kedungputri, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi. Tanaman melon siap panen itu, mengalami  kerusakan setelah menjalani periode pertumbuhan tidak normal,  batang , daun , dan buah banyak yang busuk. Kondisi ini disebabkan karena cuaca tak menentu. Selama beberapa bulan terakhir mulai dari angin kencang, hujan di tengah kemarau, serta fluktuasi suhu ekstrem. Tanaman frutikultur ini menjadi stress, sehingga mudah terserang berbagai hama dan penyakit. Situasi ini dialami Jarno petani melon yang telah berpengalaman. Dia  bersama petani frutikultur lainnya, menanam  melon, pada pertengahan bulan mei 2019. Jarno menanam sekitar 7 ribu benih melon di lahan seluas seperempat hektar dengan modal sekitar 25 juta rupiah. Cuaca yang awalnya diprediksi bisa mendukung pertumbuhan optimal tanaman melon berubah drastis.

Anomali cuaca menghancurkan tanaman melonnya, sehingga mengalami kerugian. Proyeksi ekonomi tanaman melon dalam kondisi normal, saat panen bisa menghasilkan sekitar 70 juta rupiah. Realitanya, tanaman melon tersebut hanya mampu menghasilkan 20 juta rupiah saja. Sejumlah petani frutikultur lainnya memilih mencabuti tanaman lainnya untuk mengurangi kerugian karena pembengkakan biaya perawatan. Mereka beralih menjadi petani tanaman pangan dengan menanam  padi atau palawija. Anomali cuaca merupakan bagian dari dinamika alam yang sulit ditangani oleh petani terutama bagi petani hortikutura yang membudidayakan tanaman di udara terbuka. Saat cuaca tak menentu tanaman menjadi stress dan mudah terserang hama dan penyakit karena fungsi fisiologinya terganggu, mulai dari penyerapan unsur hara, metabolisme , dan fotosintesis.

Komentar
READ  Dua Tahun, 19 Kali Jambret Incar Perempuan

Baca Juga

Leave a Comment