NGAWI – Kasus dugaan keracunan makanan kembali terjadi di Kabupaten Ngawi. Puluhan siswa di Kecamatan Mantingan dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan medis di puskesmas dan rumah sakit setempat.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi bergerak cepat dengan mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium di Surabaya.
Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan, Farmasi, dan Alat Kesehatan Dinkes Ngawi, Dhina Handayani, menjelaskan bahwa pengambilan sampel dilakukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bintang Mantingan. Sampel yang diambil meliputi nasi, topping abon, asem-asem buncis, telur rebus, tahu balado, dan buah pisang, sesuai menu yang diberikan kepada para siswa.
Dhina menyatakan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut karena masih menunggu hasil uji laboratorium dari Surabaya.
“Kami belum dapat menyimpulkan sebelum hasil laboratorium keluar,” ujarnya.
Namun, dalam proses pengambilan sampel, sejumlah wartawan yang meliput di lokasi justru mengalami tindakan intimidasi. Seorang petugas yang diduga berasal dari pihak SPPG disebut mengusir awak media dengan nada tinggi, bahkan sempat membawa potongan kayu pagar dan paving untuk menghalangi proses peliputan.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari kalangan jurnalis dan pemerhati kebebasan pers di Ngawi. Mereka menilai tindakan intimidatif terhadap wartawan bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi publik serta hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi memastikan akan menindaklanjuti hasil uji laboratorium guna menentukan sumber penyebab dugaan keracunan program MBG tersebut.

