MAGETAN – Menjelang momen Natal dan Tahun Baru, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Magetan mengalami lonjakan cukup signifikan. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp34.000 per kilogram kini naik menjadi Rp37.000 per kilogram, membuat pedagang mengeluhkan beban yang semakin berat, terutama karena penurunan jumlah pembeli.
Para pedagang menilai kenaikan harga tahun ini tidak wajar dan lebih tinggi dibandingkan periode Nataru pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya transaksi harian. Ibu rumah tangga yang biasanya membeli daging ayam untuk kebutuhan memasak kini jumlahnya menurun drastis sehingga omzet pedagang ikut terpangkas.
Salah satu faktor yang disebut memiliki dampak nyata di pasar adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah. Program ini menyediakan menu bergizi lengkap mulai dari lauk pauk, sayur, hingga buah-buahan untuk mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting. Dengan kebutuhan lauk anak yang sebagian besar sudah terpenuhi melalui program MBG di sekolah, banyak rumah tangga mengurangi pembelian daging ayam di pasar.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang kecil, salah satunya Romlah, pedagang di Pasar Tradisional Magetan. Ia mengungkapkan bahwa meski kenaikan harga menjelang Nataru adalah pola musiman, namun tahun ini lonjakan terjadi lebih cepat dan lebih tinggi dari biasanya.
Pedagang berharap pemerintah daerah melakukan pemantauan serta penataan distribusi agar harga daging ayam kembali stabil. Dengan situasi yang serba sulit, mereka hanya bisa berharap momentum libur Nataru akan meningkatkan pembelian masyarakat, meskipun hingga kini harga belum menunjukkan tanda-tanda akan turun.
Pergerakan harga komoditas daging ayam masih terus dipantau mengingat posisinya sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

