MAGETAN – Petani bawang merah di Kabupaten Magetan tengah menghadapi kondisi sulit akibat menurunnya hasil panen pada musim tanam kali ini. Penurunan produksi disebabkan serangan hama ulat dan jamur yang diperparah oleh curah hujan tinggi, sehingga tanaman bawang merah kurang mendapatkan paparan sinar matahari secara optimal.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah lahan pertanian bawang merah di Magetan. Banyak tanaman menunjukkan gejala daun menguning, layu, bahkan membusuk. Petani menyebut serangan hama dan penyakit tanaman menjadi faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan bawang merah tidak maksimal dan kualitas hasil panen menurun.
Musim hujan yang terus berlangsung membuat kelembapan lahan meningkat. Situasi ini mempercepat perkembangan jamur sekaligus memperparah serangan hama ulat. Akibatnya, produktivitas tanaman bawang merah mengalami penurunan signifikan dibandingkan musim tanam sebelumnya.
Menurunnya pasokan bawang merah dari petani sempat berdampak pada kenaikan harga. Dalam beberapa pekan terakhir, harga bawang merah di tingkat petani sempat menyentuh angka sekitar Rp40 ribu per kilogram. Namun, saat ini harga mulai berangsur turun.
Untuk bawang merah kering, harga di tingkat petani kini berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram, sementara bawang merah basah dijual sekitar Rp27 ribu per kilogram. Meski harga masih relatif tinggi di pasar, petani mengaku belum merasakan keuntungan optimal karena hasil panen yang berkurang.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik agar tanaman bawang merah dapat kembali memperoleh sinar matahari yang cukup. Selain itu, mereka juga mengharapkan adanya pendampingan dari pihak terkait dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, sehingga produktivitas serta kualitas bawang merah di Kabupaten Magetan dapat kembali meningkat.

