BOJONEGORO — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bojonegoro terus melambung tinggi. Kenaikan harga terjadi berulang kali sejak sepekan terakhir hingga menembus angka Rp100.000 per kilogram, terutama untuk jenis cabai rawit. Lonjakan harga ini diduga dipicu berkurangnya pasokan dari petani akibat cuaca buruk dan tingginya curah hujan.
Kondisi tersebut terpantau di Pasar Tradisional Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro. Sejak awal bulan, harga cabai mengalami kenaikan cukup drastis bahkan hingga tiga kali lipat. Cabai rawit merah yang sebelumnya dijual di kisaran Rp75.000 per kilogram, kini menembus Rp100.000 per kilogram.
Sementara itu, harga cabai merah keriting juga mengalami kenaikan signifikan, dari sebelumnya Rp45.000 per kilogram menjadi sekitar Rp70.000 per kilogram. Adapun cabai merah besar kini dijual di kisaran Rp55.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp40.000 per kilogram.
Tidak hanya cabai, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas bumbu dapur lainnya. Harga bawang merah kini mencapai Rp40.000 per kilogram, bawang putih berada di kisaran Rp35.000 per kilogram, sementara tomat naik dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 per kilogram. Untuk komoditas daging ayam, harga masih terpantau stabil di kisaran Rp38.000 per kilogram.
Para pedagang menduga naiknya harga cabai menjelang Natal dan Tahun Baru disebabkan terbatasnya stok di pasaran. Kondisi tersebut merupakan dampak dari cuaca buruk dan tingginya curah hujan yang menyebabkan pasokan dari daerah penghasil menurun drastis. Akibatnya, omzet pedagang pun ikut terdampak, dengan penurunan penjualan hingga sekitar 30 persen dibandingkan hari biasa.
Pedagang memperkirakan tingginya harga cabai masih akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya hingga pasokan dari petani kembali normal.

