Ponorogo – Ribuan pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari berbagai daerah memadati Alun-alun Kabupaten Ponorogo. Mereka mengikuti kegiatan Bumi Reog Berdzikir, sebuah doa bersama untuk keselamatan bangsa dan persatuan Indonesia.
Sejak pagi hari, lautan pesilat berseragam hitam khas PSHT telah memenuhi alun-alun. Mereka datang bukan untuk unjuk kekuatan fisik, melainkan untuk menyatukan hati dalam dzikir dan doa bersama.
Kegiatan Bumi Reog Berdzikir menjadi ruang spiritual sekaligus ajang mempererat tali persaudaraan antar-pesilat. Doa dipanjatkan bagi keselamatan daerah, bangsa, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Salah satu peserta, Rohmad Wahyu asal Kecamatan Badegan, mengaku sudah beberapa kali mengikuti kegiatan serupa. Menurutnya, Bumi Reog Berdzikir menjadi momen menenangkan diri sekaligus memperkuat rasa persaudaraan antarpendekar.
Suasana khidmat semakin terasa saat ribuan peserta serempak melantunkan dzikir dan doa yang dipimpin para tokoh agama. Doa tidak hanya ditujukan bagi Ponorogo, tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia.
Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, Moerjoko, menegaskan bahwa nilai persaudaraan merupakan landasan utama dalam ajaran PSHT, terutama di tengah kebhinekaan Indonesia. Dalam kegiatan ini, PSHT juga memanjatkan doa bagi para korban bencana alam di berbagai daerah serta menggalang solidaritas melalui aksi kemanusiaan.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang menilai pencak silat bukan hanya olahraga atau bela diri, tetapi juga warisan nilai dan akhlak yang perlu dijaga.
Melalui kegiatan Bumi Reog Berdzikir, diharapkan semangat persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan terus tumbuh serta meneguhkan peran perguruan silat dalam merawat persatuan bangsa.

