MADIUN – Berdasarkan data Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM), hingga akhir tahun 2025 sebaran kasus superflu di Jawa Timur tercatat sebanyak 18 kasus. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan kasus superflu di Kabupaten Madiun.
Selain Jawa Timur, kasus superflu juga tercatat di sejumlah wilayah lain, yakni di Bali dan Nusa Tenggara Timur masing-masing sebanyak dua kasus, serta satu kasus di Nusa Tenggara Barat. Sementara itu, Kabupaten Madiun masih dinyatakan aman dari temuan kasus superflu.
Di Jawa Timur, dari total 18 kasus yang terkonfirmasi, jumlah pasien laki-laki dan perempuan tercatat seimbang, masing-masing sembilan orang. Superflu sendiri merupakan varian baru hasil mutasi genetik dari virus influenza H3N2.
Meski disebut “super”, penyakit ini dinilai tidak lebih berbahaya dibandingkan influenza pada umumnya. Namun demikian, tingkat penyebarannya disebut lebih masif dan lebih cepat, serta tidak mengenal musim tertentu. Adapun gejala yang ditimbulkan serupa dengan flu biasa, yakni demam di atas 38 derajat Celsius yang disertai batuk kurang dari 10 hari.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujianto, mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi informasi terkait superflu. Masyarakat diminta tetap menerapkan langkah-langkah pencegahan.
Salah satu upaya pencegahan yang dinilai efektif adalah vaksinasi influenza yang dilakukan setahun sekali. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk menjaga daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat serta mengonsumsi makanan bergizi.

