Dampak Musim Penghujan, Proses Pengeringan Brem di Kabupaten Madiun Makin Panjang

KABUPATEN MADIUN – Musim penghujan berdampak signifikan terhadap proses pembuatan brem di Dukuh Tempuran, Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Kondisi cuaca yang lembap serta minimnya sinar matahari menyebabkan waktu pengeringan brem menjadi lebih lama, sehingga memengaruhi volume dan pola produksi para pengusaha.

Intensitas hujan yang cukup tinggi dirasakan langsung oleh para perajin brem, khususnya pada tahap pengeringan yang menjadi bagian penting dalam proses produksi. Jika pada musim kemarau pengeringan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam, pada musim penghujan proses tersebut bisa memakan waktu hingga satu sampai dua hari.

Salah satu pengusaha brem di Desa Kaliabu, Budi Widodo, produsen brem merek Suling Super Lucky, mengatakan produksi sangat bergantung pada kondisi cuaca. Dalam kondisi normal, kapasitas produksi dapat mencapai 1,5 kuintal per hari, dengan pemasaran dilakukan secara daring maupun luring ke sejumlah kota besar di Jawa Timur.

Untuk menyiasati cuaca yang tidak menentu, sebagian pengusaha memilih menggunakan metode oven sebagai alternatif pengeringan. Namun, sebagian lainnya tetap mempertahankan cara manual dengan menjemur brem di bawah sinar matahari.

Hal tersebut dilakukan oleh Rohmat, salah satu produsen brem yang menyetorkan hasil produksinya ke penjual. Ia menyebutkan, pada musim kemarau dirinya mampu memproduksi brem hampir setiap hari dengan volume mencapai 75 kilogram. Sementara pada musim hujan, dengan jumlah produksi yang sama, proses pembuatan hanya dapat dilakukan dua hari sekali.

Meski terkendala faktor cuaca, para pengusaha brem di Kabupaten Madiun tetap berupaya menjaga kontinuitas produksi dan pemasaran. Langkah tersebut dilakukan guna memenuhi permintaan pasar yang hingga kini masih relatif stabil.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *