Kota Madiun – Upaya pengelolaan sampah organik kini dilakukan dengan cara yang lebih inovatif melalui budidaya maggot. Program yang dikembangkan petugas Projasih ini tidak hanya mampu mengurai sampah dari sumbernya, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi para pelakunya.
Beragam upaya terus dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah, salah satunya melalui budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik sekaligus penggerak ekonomi. Program ini dijalankan oleh petugas kebersihan yang tergabung dalam Program Jasa Kebersihan atau Projasih, sebagai bentuk ikhtiar mengurangi timbunan sampah sejak dari sumbernya.
Budidaya maggot sebenarnya bukan hal baru. Namun setelah melalui proses analisis dan pembelajaran, metode ini dipilih karena dinilai paling efektif dalam mengurai sampah organik. Selain prosesnya cepat, hasil budidaya maggot juga memiliki nilai ekonomi yang jelas. Dari sinilah program tersebut dikembangkan secara swadaya oleh para petugas Projasih.
Maggot diketahui mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan. Proses budidaya dimulai dari pembelian bibit maggot, kemudian dirawat dari fase bayi hingga menjadi pupa, berkembang menjadi lalat, dan kembali bertelur dalam satu siklus yang terus berulang.
Dengan pemberian pakan rutin berupa sisa makanan hingga hasil fermentasi, maggot dapat dipanen dalam waktu satu hingga dua bulan. Seluruh proses budidaya dilakukan di sela-sela jam kerja petugas Projasih. Sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini mampu menghasilkan rupiah dan menambah sumber pendapatan.
Manfaat maggot tidak hanya berhenti pada nilai jual. Maggot dapat dipasarkan dalam kondisi segar maupun kering, sementara sisa pakan dan selongsong pupa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Ke depan, pengelolaan sampah berbasis maggot ini diharapkan dapat diterapkan di seluruh pasar rakyat.
Dari total 17 pasar yang ada, pemerintah berencana membentuk satuan tugas di masing-masing pasar untuk mengelola sampah organik berbasis potensi ekonomi. Program ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petugas kebersihan.

