Ponorogo – Program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disediakan Bulog untuk masyarakat umum ternyata tidak laris di pasaran. Meskipun harganya lebih murah dibanding beras medium lainnya, kualitas beras SPHP dinilai rendah sehingga kurang diminati pembeli.
Harga beras SPHP ditetapkan sebesar Rp11.800 per kilogram, lebih murah sekitar seribu rupiah dari harga beras medium yang beredar di pasar. Namun, harga tersebut tidak membuatnya laris manis. Sejumlah pembeli mengeluhkan mutu beras SPHP yang dianggap di bawah standar, mulai dari aroma apek, warna abu-abu, hingga tekstur nasi yang keras dan tidak pulen.
Heri, seorang pedagang beras di Ponorogo, mengaku stok beras SPHP yang dijualnya bisa mengendap hingga satu bulan. Padahal, beras medium lain biasanya habis terjual hanya dalam waktu sepekan.
“Beras SPHP jarang dicari pembeli. Mereka lebih memilih beras lain, meski harganya lebih mahal, karena kualitasnya lebih bagus,” ungkap Heri, Kamis (28/8/2025).
Hal senada disampaikan Suryono, salah seorang pembeli. Ia mengaku pernah mencoba beras SPHP, tetapi merasa kecewa dengan kualitasnya sehingga lebih memilih membeli beras lain.
“Pernah coba sekali, tapi nasinya keras dan tidak enak. Akhirnya saya lebih baik beli beras medium biasa,” kata Suryono.
Para pedagang berharap pemerintah dan Bulog lebih memperhatikan kualitas beras yang didistribusikan. Dengan begitu, program SPHP tidak hanya dikenal sebagai beras murah, tetapi juga dapat menjadi pilihan beras yang berkualitas bagi masyarakat.

