Ibu-Ibu Candirejo Tekuni Kerajinan Gribik Caping untuk Tambahan Penghasilan

MAGETAN – Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, sejumlah ibu rumah tangga di Desa Candirejo, Kabupaten Magetan, tetap produktif dengan menekuni kerajinan gribik, yaitu bagian ujung atau puncak dari caping yang biasa dipakai petani saat bekerja di sawah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pengisi waktu luang, tetapi juga sumber tambahan penghasilan bagi keluarga.

Setiap hari, di rumah-rumah warga terlihat para ibu duduk melingkar sambil menganyam bambu apus — jenis bambu yang dikenal kuat dan lentur sehingga mudah dibentuk menjadi anyaman halus untuk bagian atas caping. Proses pembuatannya masih dilakukan secara manual, menggunakan alat sederhana dan mengandalkan ketelatenan.

Menurut Ninik, salah satu pengrajin gribik, kegiatan ini sudah dijalankan turun-temurun dan menjadi tradisi masyarakat setempat. Dalam sehari, seorang perajin bisa menghasilkan puluhan gribik. Harga satuan gribik memang tidak mahal, sekitar lima ratus rupiah, namun bila sudah terkumpul ratusan buah dan dijual dalam bentuk pak isi seratus biji, hasilnya bisa mencapai antara lima puluh hingga lima puluh lima ribu rupiah.

Meski tidak besar, pendapatan tersebut cukup membantu kebutuhan rumah tangga sehari-hari, terutama untuk menambah uang belanja. Selain manfaat ekonomi, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antarwarga, karena sebagian besar perajin bekerja sambil berbincang santai atau bergotong royong.

Melalui kerajinan gribik caping ini, ibu-ibu di Desa Candirejo membuktikan bahwa dari hal sederhana pun dapat tercipta kegiatan produktif yang bernilai ekonomi sekaligus melestarikan tradisi anyaman bambu, bagian dari kearifan lokal masyarakat Magetan yang patut dipertahankan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *