KOTA MADIUN – Musim kemarau bukan hanya identik dengan suhu udara panas, tetapi juga menjadi momen yang paling dinanti oleh sebagian warga, khususnya anak-anak dan remaja, untuk menerbangkan layang-layang. Di Kota Madiun, permainan tradisional ini tidak sekadar hiburan, tetapi telah berkembang menjadi ajang adu strategi, ketangkasan, hingga kejuaraan tingkat nasional.
Setiap sore, kawasan Sukosari, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun dipenuhi puluhan warga yang antusias menerbangkan layang-layang di area persawahan sepanjang Jalan Bela Negara. Hembusan angin kencang menambah keseruan suasana. Jenis layangan yang paling populer dimainkan adalah layangan “Sukhoi” yang dikenal memiliki manuver kuat dan atraktif.
Permainan layang-layang yang sempat terpinggirkan oleh gawai digital kini kembali hidup berkat peran komunitas pelayang bernama Ahoed DC. Sejak tahun 2011, komunitas ini konsisten mengedukasi anak-anak dan pemuda tentang dunia layang-layang — mulai dari memilih jenis bambu terbaik untuk rangka, cara merangkai benang goci, hingga teknik menjatuhkan lawan saat turnamen.
“Anak-anak tidak hanya bermain, tapi kami arahkan untuk menjadi atlet pelayang yang bisa mengikuti berbagai kejuaraan,” ujar Angga Ramadhan, salah satu pelayang aktif dari Ahoed DC.
Tak banyak yang tahu, turnamen layang-layang mampu memberikan hadiah yang tidak sedikit. Mulai dari piala, piagam penghargaan, hingga uang pembinaan yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Anak-anak binaan Ahoed DC bahkan telah mengharumkan nama Kota Madiun dalam berbagai kejuaraan di Malang, Blora, Ponorogo, Temanggung, hingga Tulungagung.
Indra, pelayang lainnya, menyebut bahwa layang-layang bukan hanya permainan musiman, tapi juga warisan budaya yang patut dilestarikan. “Ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tapi juga semangat menjaga tradisi dan mencetak prestasi,” ujarnya.
Di tengah panasnya musim kemarau, layangan menjadi sarana yang menyatukan generasi muda, menghidupkan ruang terbuka, serta membangun karakter melalui hobi yang penuh makna.

