Buku Bekas Bertahan di Era Digital, Toko Jalan Puntuk Madiun Masih Diburu Pembaca

Kota Madiun — Di tengah pesatnya perkembangan era digital, buku bekas masih menjadi pilihan sebagai sumber pengetahuan bagi sebagian masyarakat. Di Kota Madiun, sebuah toko buku bekas yang berlokasi di Jalan Puntuk dan telah berdiri sejak tahun 1990, tetap bertahan dan terus didatangi pembaca dari berbagai kalangan.

Toko buku bekas tersebut hingga kini masih eksis melayani pembeli yang mencari berbagai jenis bacaan, mulai dari buku pelajaran hingga buku pengetahuan umum. Meski minat masyarakat terhadap buku fisik mengalami penurunan seiring berkembangnya teknologi digital, keberadaan toko ini membuktikan bahwa buku cetak masih memiliki peminat setia.

Pemilik toko buku bekas, Sawal, mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat masih memilih buku fisik karena dinilai lebih nyaman dibaca serta memiliki nilai tersendiri dibandingkan bacaan digital. Menurutnya, pembeli didominasi oleh anak usia sekolah dasar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

“Buku yang paling banyak dicari biasanya buku pelajaran, kumpulan soal, dan buku pengetahuan untuk kebutuhan akademik. Selain itu, buku sejarah juga cukup diminati,” ujar Sawal.

Toko ini menyediakan berbagai koleksi buku bekas maupun baru, termasuk buku-buku lawas terbitan tahun 1800-an hingga awal 1900-an. Sebagian buku lawas tersebut bahkan menjadi koleksi pribadi pemilik dan tidak diperjualbelikan.

Harga buku yang dijual pun relatif terjangkau, mulai dari Rp5.000 hingga puluhan ribu rupiah, tergantung tahun terbit dan kondisi buku. Tak hanya pembeli dari wilayah Madiun, pengunjung juga datang dari luar kota seperti Yogyakarta, Ponorogo, dan Magetan yang sengaja mencari buku sebagai bahan referensi.

Di tengah gempuran digitalisasi, keberadaan toko buku bekas di Jalan Puntuk menjadi bukti bahwa budaya membaca buku fisik masih tetap hidup dan diminati oleh masyarakat.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *