MAGETAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan hampir satu tahun di Kabupaten Magetan belum sepenuhnya menjangkau seluruh sekolah. Salah satunya SD Negeri Tapen 2, Kecamatan Lembeyan, yang hingga kini masih menanti giliran menerima program tersebut.
Di sekolah ini, harapan akan hadirnya MBG masih tersimpan rapi. Peran orang tua pun menjadi penopang utama pemenuhan gizi anak-anak, terutama bagi siswa yang menjalani aktivitas belajar hingga sore hari.
Setiap pagi, suasana belajar di SD Negeri Tapen 2 berjalan seperti biasa. Namun, saat jam istirahat tiba, ada pemandangan yang selalu berulang. Para orang tua datang ke sekolah membawa kotak makan, melangkah perlahan menuju gerbang, lalu menitipkan bekal untuk anak-anak mereka.
Memasuki bulan kedua tahun 2026, SD Negeri Tapen 2 tercatat belum pernah menerima program Makan Bergizi Gratis. Padahal, program tersebut telah dinikmati sejumlah sekolah lain di wilayah Kabupaten Magetan.
Kepala SD Negeri Tapen 2, Suwarto, mengatakan pihak sekolah masih menunggu giliran penyaluran MBG. Meski demikian, sekolah menyatakan siap apabila sewaktu-waktu program tersebut mulai dilaksanakan.
SD Negeri Tapen 2 menerapkan sistem full day school dengan waktu pulang siswa sekitar pukul tiga sore. Bagi sebagian orang tua, waktu siang bukan sekadar jam istirahat, melainkan momen penting untuk memastikan anak tetap mendapat asupan makanan yang cukup.
Tanpa banyak keluhan, setiap hari para orang tua menyempatkan waktu mengantarkan makanan dari rumah agar anak-anak tetap kuat belajar hingga sore.
Salah seorang wali murid, Paniran, mengungkapkan anaknya kerap bertanya kapan sekolahnya akan mendapat program Makan Bergizi Gratis. Pertanyaan sederhana itu mencerminkan betapa program ini dinantikan, tidak hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh anak-anak yang melihat teman sebayanya di sekolah lain telah menerima MBG.
Bagi para orang tua, Makan Bergizi Gratis bukan sekadar makan siang, melainkan bantuan nyata yang dapat meringankan beban harian. Program ini juga diharapkan mampu mengurangi keharusan orang tua datang ke sekolah setiap siang hari di tengah aktivitas pekerjaan mereka.
Guru dan wali murid pun berharap program MBG dapat segera merata, sehingga setiap anak memperoleh hak yang sama atas asupan gizi yang cukup serta kesempatan belajar yang lebih baik.

