MAGETAN – Dari panggung kesenian Reog Ponorogo, seorang pemuda di Desa Sidomulyo, Magetan, berhasil menemukan jalan hidupnya. Berawal sebagai penabuh gendang, kini ia berkembang menjadi pengrajin topeng barongan dengan nilai jual hingga jutaan rupiah, Kamis (26/2/2026).
Dentuman gendang Reog pernah menjadi bagian dari keseharian Tiyas Maulana. Di balik megahnya panggung, ia bukan penari utama, melainkan kru sekaligus penabuh musik pengiring. Namun dari sanalah ia membaca peluang.
Pemuda asal Dusun Gondang, Desa Sidomulyo ini melihat celah yang jarang diperhatikan, yakni keterbatasan ketersediaan topeng barongan saat musim pentas tiba. Permintaan meningkat, namun stok tak selalu siap. Dari pengamatan itulah, Tiyas memutuskan beralih peran dari kru menjadi pengrajin.
Di bengkel kerjanya yang sederhana, balok kayu perlahan berubah bentuk. Prosesnya tak singkat. Untuk menghasilkan barongan berkualitas premium, ia mendatangkan kulit pelapis langsung dari Ponorogo dan Magetan.
Namun tantangan terbesar bukan pada bahan ataupun pahatan. Bagian tersulit justru saat memberi “nyawa” pada wajah barongan. Tanpa latar belakang pendidikan seni, Tiyas belajar secara otodidak.
Ia melatih tangannya menggurat motif harimau, membentuk sorot mata yang tajam, hingga karakter yang terlihat garang dan berwibawa. Baginya, garis wajah dan tatapan mata adalah ruh utama. Jika salah sedikit saja, karakter barongan bisa kehilangan wibawanya.
Proses produksi pun sangat bergantung pada alam. Saat cuaca cerah, satu barongan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan. Namun ketika hujan turun terus-menerus, proses pengeringan terhambat dan pengerjaan bisa molor hingga benar-benar siap jual.
Ketekunan itu kini berbuah manis. Untuk barongan ukuran 35 sentimeter, Tiyas mematok harga sekitar 800 ribu rupiah. Sementara ukuran 60 hingga 75 sentimeter dibanderol antara satu setengah hingga dua juta rupiah, menyesuaikan detail dan tingkat kerumitan.
Di tangan pemuda ini, barongan bukan sekadar topeng kayu. Ia menjadi simbol kemandirian ekonomi sekaligus wujud kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya.
Dari Desa Sidomulyo, tradisi itu terus hidup, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di ruang-ruang kecil tempat kreativitas dan keberanian mengambil peluang bertemu.

