Ponorogo – Kenaikan harga cabai rawit yang mencapai Rp110 ribu per kilogram selama bulan Ramadan rupanya tidak selalu membawa dampak negatif. Bagi sebagian pelaku usaha, kondisi ini justru menjadi berkah tersendiri. Salah satunya dialami Supriyati, pengrajin sambel pecel asal Kelurahan Mangunsuman, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, yang justru kebanjiran pesanan selama bulan suci.
Supriyati menyebutkan, sejak awal Ramadan, permintaan sambel pecel meningkat hingga 150 persen dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Lonjakan permintaan ini dipicu kebiasaan masyarakat yang menjadikan sambel pecel sebagai menu praktis dan favorit untuk sahur maupun berbuka puasa.
“Setiap hari ada saja pesanan masuk, baik dari pelanggan lama maupun pembeli baru. Banyak yang kirim ke luar kota untuk keluarga di perantauan juga,” ujar Supriyati saat ditemui di rumah produksinya.
Meski harga cabai rawit melonjak tajam, biaya produksi sambel pecel tidak mengalami kenaikan signifikan. Hal ini karena bahan utama yang digunakan lebih banyak berasal dari cabai merah besar dan kacang tanah, yang harganya relatif stabil. Dengan demikian, harga jual sambel pecel tetap dapat dipertahankan agar terjangkau bagi konsumen.
Selain melayani pasar lokal Ponorogo, Supriyati juga menerima pesanan dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa. Melalui pemasaran digital, produk sambel pecel rumahan ini kini dikenal luas, terutama saat momentum Ramadan.
“Sekarang banyak yang pesan lewat online, bahkan sampai Kalimantan dan Sumatera. Alhamdulillah, rezekinya makin lancar,” tambahnya.
Bagi Supriyati, bulan Ramadan tahun ini menjadi berkah ganda — selain memperbanyak ibadah, tingginya permintaan sambel pecel juga menghadirkan peningkatan pendapatan yang signifikan. Ia berharap tren positif ini dapat terus berlanjut hingga menjelang Idulfitri.

