Kisah Pamujo dan Servis Beduk, Merawat Ramadan dengan Merawat Beduk Masjid

PONOROGO – Di tengah bulan Ramadan, pesanan servis beduk di bengkel milik seorang lansia di Ponorogo justru meningkat. Dengan tangan yang tak lagi muda, Samuji tetap telaten memperbaiki beduk-beduk milik masjid.

Bagi pria yang akrab disapa Pamujo ini, merawat beduk bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari menjaga tradisi sekaligus menyambut bulan suci Ramadan.

Di bengkel sederhana miliknya, Pamujo tampak cekatan memperbaiki sebuah beduk yang kulitnya mulai sobek. Ia membongkar bagian membran beduk, lalu menggantinya dengan kulit lembu baru agar suaranya kembali nyaring saat ditabuh.

Berbagai beduk dari masjid datang ke tempatnya untuk diperbaiki. Ada yang kulitnya kendur, ada pula yang badan beduknya retak akibat usia dan perubahan cuaca. Sejak tahun 2008, Pamujo menekuni profesi sebagai pengrajin servis beduk.

Keahlian tersebut ia pelajari secara otodidak, tanpa pernah mendapatkan pelatihan khusus. Dalam proses perbaikan, ia kerap menggunakan kulit lembu segar yang masih basah. Kulit tersebut kemudian dibentangkan dan dikencangkan secara perlahan untuk menggantikan membran lama yang telah rusak.

Selama bulan Ramadan, permintaan servis beduk biasanya meningkat. Dalam satu bulan, Pamujo dapat menangani tiga hingga lima beduk yang perlu diperbaiki. Biaya servis pun bervariasi, mulai dari Rp600 ribu hingga Rp3 juta, tergantung tingkat kerusakan.

Meski saat ini banyak masjid telah menggunakan pengeras suara modern, suara beduk masih menjadi bagian dari tradisi yang melekat di tengah masyarakat.

Bagi Pamujo, selama masih ada masjid yang membutuhkan suara beduk, ia akan terus merawat tradisi tersebut dengan tangan tuanya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *