Ngawi — Berawal dari hobi, Tina (41), warga Desa Sumber Sari, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, berhasil mengubah minatnya terhadap kambing Peranakan Etawa (PE) menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini kini mengelola Ong Chai Farm, peternakan kambing kontes yang telah menghasilkan ratusan ekor kambing berkualitas tinggi dan berprestasi.
Setiap hari, Tina bersama tujuh orang pekerjanya merawat sekitar 200 ekor kambing dengan telaten. Mulai dari membersihkan kandang, memandikan, menjemur, hingga memberi pakan khusus dilakukan secara rutin demi menjaga kualitas fisik dan penampilan kambing.
Usaha ini sudah ia tekuni selama enam tahun. Ketertarikannya terhadap kambing PE muncul dari fisik dan karakteristik bulunya yang unik dan lebat. Bermula dari beberapa ekor, kini jumlah kambingnya terus bertambah seiring meningkatnya permintaan dan reputasi Ong Chai Farm.
“Awalnya cuma hobi, lama-lama saya seriusin. Sekarang alhamdulillah sudah jadi sumber penghasilan utama,” ungkap Tina.
Tina tak ragu berinvestasi besar demi kualitas. Salah satu indukan unggul yang ia miliki bahkan dibeli langsung dari Kaligesing, Purworejo, seharga Rp100 juta saat berusia satu tahun. Dari indukan inilah lahir anakan kambing kontes yang kini laris manis diburu pembeli dari berbagai kota seperti Malang, Banjarnegara, dan Bogor.
Beberapa kambing miliknya pun sudah menorehkan prestasi di berbagai kontes, baik di tingkat regional maupun nasional. Pada Mei lalu, salah satu kambing jantan dari peternakannya berhasil meraih Juara 1 Kelas A dalam kontes nasional di Kabupaten Jombang, yang kian mengukuhkan nama Ong Chai Farm di kalangan komunitas kambing kontes.
Harga jual kambing hasil persilangan induk dan pejantan juara juga sangat tinggi. Anak kambing berusia dua bulan bahkan bisa terjual hingga Rp20 juta per ekor.
Kesuksesan Tina membuktikan bahwa hobi yang ditekuni secara serius dan profesional bisa menjadi bisnis yang menguntungkan, bahkan mampu menciptakan lapangan kerja dan mendongkrak ekonomi desa.

