NGAWI – Seni gravitas atau rock balancing kini menjadi tren baru di kalangan masyarakat Kabupaten Ngawi. Aktivitas menata batu hingga berdiri seimbang tanpa bantuan perekat ini tidak hanya menghasilkan karya estetis, tetapi juga menjadi sarana melatih kesabaran dan ketenangan pikiran.
Di kawasan Wisata Alam Selo Ondo, Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, sejumlah pemuda dan warga tampak tekun menyusun batu-batu berbagai ukuran secara vertikal. Dengan konsentrasi penuh, mereka mencari titik keseimbangan di antara permukaan batu agar dapat berdiri tanpa jatuh.
Salah satu pegiat rock balancing, Yosef Deni Kurniawan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bisa dilakukan di tepi sungai atau tempat yang memiliki banyak batu dengan bentuk dan tekstur beragam. Prosesnya membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap batu memiliki karakter yang berbeda.
“Untuk mendapatkan susunan batu yang benar-benar seimbang, kadang butuh waktu lama. Tapi di situ letak tantangannya — sekaligus menjadi latihan sabar dan fokus,” ujar Yosef.
Menurut Yosef, seni ini tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga memberikan efek menenangkan bagi pikiran. Rock balancing kerap dianggap sebagai bentuk meditasi di alam terbuka, karena melibatkan keheningan, ketelitian, dan koneksi dengan alam sekitar.
Kegiatan ini pun dapat dilakukan oleh siapa saja — mulai anak-anak hingga orang dewasa — sebagai cara sederhana untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus melatih ketenangan batin.
Seni rock balancing mulai dikenal di Ngawi sejak tahun 2015. Meski belum memiliki komunitas resmi, peminatnya terus bertambah. Bagi banyak warga, keindahan batu yang tersusun seimbang menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam.
Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran, ketenangan, dan imajinasi — tiga hal sederhana yang bisa melahirkan karya seni penuh makna dari tumpukan batu di tepi sungai.

