PONOROGO – Berawal dari keresahan melihat limbah rumah tangga yang terbuang sia-sia, seorang pemuda asal Kabupaten Ponorogo berinovasi dengan membudidayakan maggot. Inovasi ini tidak hanya membantu menghemat biaya pakan ayam, tetapi juga mampu menekan volume limbah organik di lingkungan sekitar.
Keprihatinan terhadap harga pakan unggas yang terus meningkat mendorong pemuda tersebut mencari solusi alternatif. Ia pun memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai bahan utama budidaya maggot, yang kemudian digunakan sebagai pakan tambahan bagi ternak ayam miliknya.
Pemuda itu adalah Ginanjar Brilianto, warga Jalan Merbabu, Kelurahan Nologaten, Kecamatan Ponorogo. Selama ini, ia kerap melihat limbah rumah tangga seperti ampas kelapa dan sisa makanan terbuang percuma. Dari situlah muncul ide untuk mengolah limbah menjadi pakan maggot jenis Black Soldier Fly atau BSF.
Prosesnya dimulai dengan mengumpulkan limbah organik rumah tangga. Limbah tersebut kemudian difermentasi dengan cara dicampur dan direndam dalam wadah berisi air selama tiga hingga empat hari. Setelah teksturnya menjadi lebih encer, limbah tersebut diberikan sebagai pakan maggot yang dibudidayakan di sekitar kandang ayam.
Maggot berusia sekitar sepuluh hingga dua puluh hari selanjutnya dimanfaatkan sebagai campuran pakan bagi ratusan ayam ternak milik Ginanjar. Kandungan protein yang tinggi pada maggot terbukti mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas unggas. Salah satunya terlihat pada ayam jenis KUB 2 miliknya yang kini mampu bertelur hampir setiap hari.
Ginanjar mengaku, berkat ketelatenannya dalam memanfaatkan limbah rumah tangga, ia mampu menghemat biaya pakan hingga 65 persen. Selain itu, inovasi sederhana ini juga menjadi alternatif bagi peternak kecil untuk menekan biaya produksi sekaligus membantu mengurangi sampah rumah tangga.
Ke depan, ia berharap semakin banyak masyarakat dan peternak yang memanfaatkan limbah organik sebagai pakan maggot, sehingga dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

