MAGETAN – Di tengah perubahan zaman dan menurunnya minat terhadap kerajinan tradisional, seorang lansia di Desa Nitikan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, masih setia melanjutkan usaha kecilnya sebagai pembuat keset dari serabut kelapa. Meski usia tak lagi muda, Wagyinem—yang akrab disapa Mbah Wagiyem—tetap bertahan menjalani pekerjaan yang telah digelutinya selama puluhan tahun.
Dari sebuah rumah sederhana, Wagiyem yang hidup seorang diri terus bekerja membuat keset serabut kelapa untuk menyambung hidup sekaligus menjaga tradisi lokal. Dahulu, hampir setiap rumah di Desa Nitikan turut menjadi pengrajin keset serabut kelapa. Namun kini, usaha tersebut semakin tergerus oleh modernisasi hingga hanya menyisakan dua orang pengrajin, termasuk Wagiyem.
Proses pembuatan keset ini sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca. Ketika musim kemarau, serabut kelapa lebih mudah kering sehingga produksi berjalan lebih cepat dan harga tetap stabil. Namun saat musim hujan, proses pengeringan menjadi tantangan utama dan berdampak pada meningkatnya harga jual.
Keset buatan Wagiyem dibanderol antara lima ribu hingga tujuh ribu lima ratus rupiah, tergantung ketersediaan bahan dan cuaca. Meski pasarnya kian terbatas, Wagiyem masih memiliki pelanggan tetap dari Pasar Plaosan yang biasanya datang setiap sepuluh hingga lima belas hari sekali untuk mengambil produk secara langsung.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kegigihan Wagiyem menjadi potret kesetiaan dan kecintaan terhadap kerajinan tradisional yang semakin jarang dijumpai. Meski usahanya kian terpinggirkan, ia tetap berjuang menjaga warisan lokal yang hampir punah.

