Pesanan Turun 90 Persen, Perajin Bedug Sugihwaras Terus Bertahan

MAGETAN – Memasuki bulan Ramadan, permintaan bedug biasanya meningkat. Namun kondisi berbeda dialami seorang perajin bedug di Desa Sugihwaras, Kabupaten Magetan. Sejak pandemi COVID-19, pesanan terus menurun drastis hingga mencapai 90 persen. Meski harga telah diturunkan, pembeli tetap sepi.

Di sebuah bengkel sederhana di desa tersebut, suara ketukan kayu dan proses penghalusan rangka bedug masih terdengar. Usaha ini telah dirintis sejak tahun 1997 dan menjadi salah satu sentra pembuatan bedug di wilayah tersebut. Aktivitas produksi tetap berjalan meski jumlah pesanan menurun tajam.

Tak hanya memproduksi bedug untuk masjid dan musala, perajin juga membuat berbagai alat musik tradisional seperti kendang, rebana, hingga kentongan. Seluruh produk dibuat secara manual dengan mengutamakan kualitas bahan. Untuk pembuatan bedug, digunakan kulit kerbau sebagai bahan utama bagian tabuhan, sementara rangkanya terbuat dari kayu nangka dan trembesi yang dikenal kuat dan tahan lama. Proses pembuatan satu bedug berukuran besar bahkan bisa memakan waktu hingga beberapa pekan.

Menurut perajin, sebelum pandemi, pesanan datang silih berganti, terutama menjelang Ramadan dan hari besar Islam. Pemasaran produk bahkan telah menjangkau luar pulau seperti Sumatra dan Kalimantan. Namun sejak pandemi, jumlah pesanan terus merosot. Bahkan sejak tahun lalu, penurunan mencapai hampir 90 persen sehingga produksi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Berbagai upaya dilakukan agar usaha tetap bertahan, salah satunya dengan menurunkan harga hingga lebih dari 30 persen. Harga bedug dijual bervariasi tergantung ukuran. Untuk bedug besar, pernah terjual hingga 30 juta rupiah, sedangkan ukuran lebih kecil dibanderol mulai 5 juta rupiah.

Meski situasi belum sepenuhnya pulih, perajin berharap momentum Ramadan tahun ini mampu mendongkrak kembali permintaan. Baginya, mempertahankan usaha yang telah berdiri hampir tiga dekade bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga menjaga warisan kerajinan tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *