Ponorogo – Sebuah plengsengan penahan banjir di aliran Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo, mengalami ambrol dan menutup seluruh badan sungai. Kondisi ini membuat belasan rumah warga terancam terdampak banjir. Bahkan, sejumlah warga memilih mengungsi saat hujan deras mulai turun.
Beginilah kondisi plengsengan penahan banjir Sungai Keyang yang berada di Desa Demangan, Kecamatan Siman, Ponorogo, pada Kamis siang.
Plengsengan setinggi sekitar enam meter dan panjang kurang lebih tiga puluh meter tersebut runtuh. Material bangunan yang bercampur tanah serta rumpun bambu menutup total aliran Sungai Keyang.
Warga setempat menyebutkan kerusakan plengsengan sebenarnya sudah terjadi sejak satu bulan lalu, namun kondisinya semakin parah setelah gempa bumi yang terjadi pada Selasa lalu.
Saat ini, warga yang bermukim di bantaran sungai diliputi rasa cemas setiap kali hujan deras turun. Beberapa di antaranya bahkan memilih mengungsi karena khawatir rumah mereka terdampak luapan sungai.
“Tingkat risiko banjir hampir delapan puluh persen masuk ke Demangan. Rumah-rumah terancam karena jarak dari tanggul ke rumah hanya sekitar empat meter. Saat hujan, warga yang tinggal di sekitar longsoran selalu was-was dan siap mengungsi,” ujar Agung Kuncoro, warga setempat.
Berdasarkan data sementara, sedikitnya delapan belas rumah warga terancam banjir akibat luapan Sungai Keyang.
“Kerusakan sudah terjadi sekitar satu bulan lalu dan mengalami kerusakan susulan. Setelah gempa kemarin, kondisinya semakin parah. Dampaknya, banyak rumah di sekitar yang terancam. Selain itu, aliran sungai juga tertutup material plengsengan dan bambu,” kata Soimun, Ketua RT.
Pihak RT mengaku telah melaporkan kejadian ini ke pemerintah desa. Namun, hingga kini, belum ada peninjauan langsung dari dinas terkait.

