Magetan – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan ternak, namun juga mengancam keberlangsungan usaha peternakan sapi perah di Kabupaten Magetan. Dampak tersebut terlihat dari penurunan signifikan populasi sapi perah serta anjloknya produksi susu dalam beberapa tahun terakhir.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan mencatat, populasi sapi perah yang sebelumnya mencapai lebih dari seribu ekor, kini menyusut drastis dan hanya tersisa sekitar 700 ekor. Penurunan ini terjadi sebagai dampak lanjutan dari serangan PMK yang memengaruhi kondisi kesehatan ternak secara menyeluruh.
Setelah terserang PMK, produksi susu sapi perah diketahui menurun tajam dan tidak lagi optimal seperti sebelum wabah merebak. Selain itu, kemampuan reproduksi sapi perah juga mengalami gangguan, sehingga berpengaruh terhadap keberlanjutan populasi ternak.
Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan menilai sapi perah memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap PMK dibandingkan jenis sapi lainnya. Kondisi ini semakin diperparah pada masa pemulihan, karena sapi yang terinfeksi harus mendapatkan penanganan medis berupa pemberian antibiotik.
Akibat penggunaan antibiotik tersebut, susu yang dihasilkan tidak dapat dikonsumsi maupun dipasarkan. Hal ini berdampak langsung terhadap pendapatan peternak sapi perah. Tidak sedikit peternak yang akhirnya memilih mengurangi jumlah ternak, bahkan menghentikan usaha peternakan sapi perah karena dinilai tidak lagi menguntungkan.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani, menyebut penurunan populasi sapi perah telah terjadi sejak awal virus PMK merebak di Magetan pada tahun 2022 dan terus berlanjut hingga saat ini.
Fenomena penurunan populasi sapi perah ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Magetan, namun juga berlangsung secara nasional. PMK menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan usaha peternakan sapi perah, terutama dalam menjaga produktivitas susu dan stabilitas populasi ternak.
Pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian PMK, mulai dari vaksinasi hingga edukasi kepada peternak. Diharapkan, melalui langkah tersebut, populasi sapi perah serta produksi susu di Kabupaten Magetan dapat kembali pulih secara bertahap.

