MAGETAN – Angka prevalensi stunting di Jawa Timur terus menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data terbaru, tingkat stunting di provinsi tersebut kini berada di kisaran 14 persen, menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan angka stunting terendah kedua secara nasional. Capaian ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang melibatkan banyak pihak, termasuk Tim Penggerak PKK yang berada langsung di tengah masyarakat.
Penurunan angka stunting menjadi fokus program nasional dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak di Indonesia. PKK Jawa Timur menegaskan bahwa peran keluarga dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendeteksi serta mencegah risiko stunting sejak dini. Sebagai organisasi yang bersentuhan langsung dengan warga, PKK berperan dalam memberikan edukasi, mendorong pemenuhan gizi, serta mendampingi ibu hamil dan balita di berbagai daerah.
Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sehingga upaya pencegahan harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menekan angka stunting secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Di Kabupaten Magetan, prevalensi stunting saat ini berada di angka sekitar 10,2 persen, termasuk salah satu yang terendah di Jawa Timur. Data tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Upaya penanganan dilakukan melalui kegiatan posyandu, pemantauan tumbuh kembang anak, serta penguatan peran kader di tingkat kelurahan dan desa.
Langkah-langkah tersebut sejalan dengan target nasional menuju Indonesia Emas 2045, yang menargetkan angka stunting turun di bawah 5 persen di seluruh wilayah. Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat, Jawa Timur diharapkan mampu mempertahankan bahkan mempercepat penurunan angka stunting. Magetan menjadi salah satu daerah yang mencatat perkembangan positif melalui program yang dijalankan secara konsisten.

