Cegah PMK, Bupati Minta DPP Optimalkan Vaksin Pada Ternak

Ngawi – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK pada hewan ternak, khususnya sapi, kembali merebak di Kabupaten Ngawi. Untuk mencegah agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas, Bupati Ngawi meminta Dinas Perikanan dan Peternakan atau DPP mengoptimalkan kembali pelaksanaan program vaksinasi pada ternak.

Data Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi mencatat, hingga saat ini terdapat sekitar 30 ekor hewan ternak yang terjangkit PMK. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Ngawi meyakini penyebaran PMK kali ini masih dapat dikendalikan.

Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, menyampaikan bahwa jika dibandingkan dengan sejumlah daerah lain di Jawa Timur, kasus PMK di Ngawi tahun ini tergolong rendah. Hal tersebut berdasarkan hasil evaluasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menilai Ngawi sebagai salah satu daerah yang masih konsisten menerapkan program vaksinasi PMK.

Dengan konsistensi tersebut, pemerintah daerah optimistis penyebaran PMK masih dapat ditekan. Bupati juga menilai, sebagian besar ternak yang terjangkit PMK merupakan hewan hasil jual beli dari luar daerah yang masuk melalui aktivitas pasar hewan.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Ngawi belum berencana menutup aktivitas pasar hewan. Sebagai langkah antisipasi, Bupati meminta Dinas Perikanan dan Peternakan untuk terus menggencarkan vaksinasi dengan sistem jemput bola, serta rutin melakukan sterilisasi di area pasar hewan.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi, temuan hewan ternak yang terjangkit PMK didominasi oleh jenis sapi. Sementara itu, kasus PMK pada tahun 2026 pertama kali ditemukan di wilayah Kecamatan Karanganyar.

Pemerintah daerah mengimbau para peternak agar tetap waspada, meningkatkan kebersihan kandang, serta segera melaporkan kepada petugas jika menemukan gejala PMK pada hewan ternaknya, guna mencegah penyebaran penyakit semakin meluas.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *