MAGETAN – Cuaca hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada produksi genteng tradisional di Kabupaten Magetan. Para pengrajin di Desa Dukuh, Kecamatan Bendo, mengaku hasil produksi menurun akibat proses pengeringan yang terhambat.
Aktivitas produksi genteng di Desa Dukuh mengalami penurunan seiring cuaca hujan yang terus berlangsung beberapa pekan terakhir. Kondisi mendung dan curah hujan tinggi membuat proses pengeringan genteng menjadi lebih lama dari biasanya. Jika pada musim kemarau para pengrajin mampu memproduksi sekitar 250 biji genteng per hari, kini saat musim hujan produksi hanya mencapai sekitar 200 biji.
Penurunan jumlah produksi tersebut disebabkan proses penjemuran yang tidak optimal. Para pengrajin harus menunggu lebih lama agar genteng benar-benar kering sebelum masuk tahap pembakaran. Pada musim panas, proses pengeringan biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar dua hari, namun saat musim hujan proses tersebut bisa mencapai empat hari atau lebih jika curah hujan tinggi.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap produktivitas dan pendapatan para pengrajin. Meski demikian, mereka tetap berupaya mempertahankan kualitas produk agar tetap memenuhi permintaan pasar, ujar Tugiyo, salah satu pengrajin genteng.
Genteng produksi Desa Dukuh sendiri memiliki beragam jenis, di antaranya genteng Magase, Mantili, serta genteng talang yang banyak digunakan masyarakat untuk kebutuhan pembangunan rumah.
Para pengrajin berharap kondisi cuaca segera membaik agar proses produksi kembali normal. Selain itu, mereka juga mengharapkan dukungan dari pemerintah untuk membantu keberlangsungan industri genteng tradisional di tengah ketidakpastian cuaca.
Meski dihadapkan pada berbagai kendala, para pengrajin di Dukuh, Kecamatan Bendo, tetap bertahan dan terus berproduksi demi menjaga usaha turun-temurun agar tetap hidup serta memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar.

