Magetan – Seorang pengusaha muda asal Kabupaten Magetan berhasil mengembangkan usaha budidaya jamur tiram dari nol dengan belajar secara otodidak melalui video di YouTube dan komunitas media sosial. Kini, usahanya terus berkembang dan mampu memproduksi belasan kilogram jamur setiap hari. Meski sempat mendapat tawaran memasok program Makan Bergizi Gratis, keterbatasan kapasitas produksi membuatnya masih fokus memenuhi pasar lokal.
Usaha tersebut dirintis Yoga Ferry, warga Desa Pojoksari, Kecamatan Sukomoro, sekitar dua tahun lalu. Awalnya, ia tertarik setelah melihat video budidaya jamur di internet. Dari sana, ia kemudian bergabung dengan komunitas budidaya jamur di media sosial hingga bertemu mentor yang memberikan bimbingan langsung dalam memulai usaha.
Perlahan, usaha yang awalnya kecil terus berkembang. Saat ini, Yoga telah memiliki sekitar tujuh ribu baglog atau media tanam jamur tiram. Dalam kondisi cuaca dan suhu normal, produksi jamur bisa mencapai rata-rata 14 hingga 16 kilogram per hari. Namun, saat suhu kurang mendukung, produksi bisa menurun menjadi sekitar 8 hingga 9 kilogram.
Jamur tiram hasil panen dijual langsung ke konsumen dengan harga sekitar Rp18 ribu per kilogram. Sementara jika melalui pedagang sayur, harganya berkisar Rp14 ribu per kilogram. Usaha ini juga sempat mendapat tawaran untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis, tetapi belum dapat dipenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi serta jumlah petani jamur di sekitar.
Saat ini, hasil panen masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, seperti pedagang sayur di wilayah Sukomoro dan sekitarnya. Ke depan, Yoga berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memperluas pasar sekaligus memberdayakan petani jamur tiram lain di sekitar.
Berawal dari belajar secara otodidak melalui internet, usaha budidaya jamur tiram ini kini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani memulai usaha dari desa.

