MAGETAN – Menjelang bulan suci Ramadhan, berkah justru dirasakan para petani mawar di Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Sejak pertengahan Januari, permintaan bunga mawar meningkat drastis hingga mendorong harga jual naik lebih dari 100 persen. Kondisi ini menjadi momentum panen keuntungan bagi petani, meski hanya terjadi pada waktu tertentu dalam setahun.
Aktivitas petani mawar di Desa Sidomulyo terlihat lebih sibuk dibandingkan hari biasa. Pesanan bunga terus membeludak, terutama untuk kebutuhan ziarah dan tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadhan. Para petani bahkan harus memanen lebih sering guna memenuhi permintaan pasar.
Jika pada hari normal harga mawar berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per tenggok, maka mendekati Ramadhan harga dapat melonjak hingga ratusan ribu rupiah. Dalam kondisi tertinggi, harga pernah menyentuh Rp250 ribu per tenggok. Dalam sehari, petani mampu memanen sekitar 20 tenggok bunga mawar.
Salah satu petani, Bu Kami, mengaku tingginya permintaan membuat para tengkulak datang langsung ke kebun untuk membeli hasil panen. Transaksi pun dilakukan di ladang tanpa harus menunggu distribusi ke pasar.
Meski demikian, momen panen raya dan harga tinggi ini tidak berlangsung sepanjang tahun. Petani menyebut kondisi serupa hanya terjadi menjelang Ramadhan, Lebaran, serta bulan Suro. Di luar itu, harga mawar cenderung kembali normal.
Tanaman mawar juga dinilai cukup menguntungkan karena dapat dijadikan tanaman tumpangsari. Petani masih bisa memanfaatkan lahan yang sama untuk menanam sayuran atau komoditas lain sehingga pendapatan tetap stabil saat harga mawar turun.
Momentum menjelang Ramadhan ini menjadi berkah tersendiri bagi petani di Desa Sidomulyo. Mereka berharap permintaan tinggi dapat bertahan hingga awal bulan puasa, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menambah pendapatan keluarga.

