PONOROGO – Sebanyak 25 bencana tanah longsor terjadi dalam kurun waktu lima hari di Kabupaten Ponorogo. Peristiwa tersebut tersebar di sejumlah wilayah, terutama di kecamatan dengan kontur pegunungan seperti Pulung dan Ngrayun. #Ponorogo #BeritaJTV
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat, puluhan kejadian longsor tersebut terjadi sejak 1 hingga 5 April 2026. Selain di Kecamatan Pulung dan Ngrayun, bencana juga terjadi di Kecamatan Pudak serta Ngebel yang memiliki karakter wilayah rawan longsor.
Ketua Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menyebutkan bahwa Kecamatan Pulung menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni mencapai 13 peristiwa dalam periode tersebut.
Dampak longsor tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, namun juga berdampak pada permukiman warga. Tercatat, tiga rumah di Desa Banaran, Kecamatan Pulung mengalami kerusakan ringan. Selain itu, material longsor juga sempat memutus akses jalan di Dukuh Gondangsari sehingga tiga rumah warga terisolasi.
BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah guna mencegah risiko yang lebih besar.










