MAGETAN – Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tengah menghadapi tekanan serius. Lonjakan harga bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat tajam, sementara kondisi pasar yang masih lesu memaksa pelaku usaha bertahan dengan berbagai strategi.
Gejolak harga bahan baku impor menjadi pukulan berat bagi pelaku industri. Kenaikan terjadi pada hampir seluruh bahan pendukung produksi, mulai dari krom, pewarna, hingga bahan pelembut kulit.
Kenaikan harga tersebut berkisar antara 20 hingga 50 persen. Bahkan, untuk bahan pendukung seperti plastik, lonjakan harga mencapai hingga 100 persen atau dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Kondisi ini dipicu tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku dari luar negeri. Dampaknya, setiap perubahan harga di pasar global langsung berimbas pada biaya produksi di tingkat lokal.
Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha semakin tertekan. Di sisi lain, mereka belum dapat menaikkan harga jual secara signifikan karena lemahnya daya beli masyarakat.
Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, pelaku usaha khawatir produk tidak terserap pasar dan justru menurunkan penjualan. Situasi ini membuat mereka harus mengambil langkah efisiensi di berbagai sektor.
Ketua Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia (APKI) Magetan, Basuki, mengungkapkan kondisi tersebut cukup berat bagi pelaku industri.
Untuk bertahan, pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari menekan biaya operasional hingga mengatur ulang volume produksi.
Meski berada di bawah tekanan, pelaku industri tetap optimistis. Produk kulit dinilai masih memiliki nilai tambah dan karakteristik khas yang sulit tergantikan oleh material lain.
Harapan pun tertuju pada membaiknya kondisi pasar serta stabilnya harga bahan baku ke depan, agar industri penyamakan kulit di Magetan dapat terus bertahan dan berkembang.
Namun, jika tekanan harga terus berlanjut tanpa solusi, sektor ini berpotensi menghadapi tantangan yang lebih berat dalam waktu dekat.










