MAGETAN – Di tengah arus modernisasi, tidak semua kuliner tradisional mampu bertahan. Namun di Desa Candirejo, Magetan, Jenang Candi Bu Supi tetap eksis sejak tahun 1960-an, menghadirkan cita rasa sekaligus warisan budaya lintas generasi.
Aroma manis gula merah tercium dari dapur sederhana tempat jenang ini diproduksi. Hingga kini, proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional menggunakan kayu bakar, yang dipercaya menghasilkan rasa khas. Adonan diaduk perlahan hingga menghasilkan tekstur kenyal, empuk, dan legit.
Usaha ini kini telah memasuki generasi ketiga. Keaslian rasa tetap dijaga, termasuk tanpa penggunaan bahan pengawet sehingga daya tahannya hanya sekitar satu minggu. Bahan baku gula merah yang didatangkan dari Pacitan turut memberikan warna pekat dan cita rasa khas yang membedakan dengan jenang lainnya.
Menurut Sumarmi, selain jenang, juga diproduksi jajanan tradisional lain seperti wajik, jadah, dan tasikan. Semua dibuat dengan resep turun-temurun yang tetap dijaga keasliannya.
Meski diproduksi secara sederhana, pemasaran Jenang Candi Bu Supi telah menjangkau berbagai daerah. Produk banyak didistribusikan melalui reseller yang datang setiap pagi untuk mengambil dan menjual kembali.
Seluruh proses produksi melibatkan lima orang pekerja yang masih merupakan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa usaha tersebut bukan sekadar bisnis, tetapi juga bagian dari warisan keluarga yang terus dijaga.
Dengan harga sekitar Rp38 ribu per kilogram untuk jenang dan Rp35 ribu per kilogram untuk produk lainnya, Jenang Candi Bu Supi tidak hanya menjadi kudapan, tetapi juga bagian dari tradisi dalam berbagai acara masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, Jenang Candi Bu Supi menjadi pengingat bahwa rasa bukan sekadar soal selera, tetapi juga tentang cerita, kerja keras, dan warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.










