KABUPATEN MADIUN -Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun mencatat lonjakan kasus suspek campak pada anak dan balita sejak awal tahun 2026. Meski jumlah kasus meningkat, seluruh pasien dilaporkan telah sembuh, sementara hasil pemeriksaan laboratorium masih dalam proses.
Berdasarkan data Dinkes, jumlah suspek campak mencapai 52 kasus hingga pertengahan April 2026. Angka ini meningkat dibandingkan bulan Maret yang tercatat sebanyak 25 kasus.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun, Agung Dodik Pujianto, menjelaskan bahwa hingga saat ini hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya belum keluar. Hal tersebut disebabkan keterbatasan ketersediaan reagen.
Meski belum ada konfirmasi positif campak, seluruh pasien suspek telah mendapatkan penanganan medis dan dinyatakan sembuh. Penanganan dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit, dengan mayoritas pasien menjalani rawat jalan. Sementara pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid harus menjalani rawat inap selama 3 hingga 7 hari.
Gejala yang muncul pada suspek antara lain demam, ruam merah di seluruh tubuh, mata berair atau konjungtivitis, serta batuk dan sesak napas. Kasus tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Madiun dan tidak menunjukkan pola penularan yang berdekatan.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk waspada karena penularan campak dapat terjadi melalui udara atau droplet.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran ke fasilitas kesehatan, melakukan edukasi kepada masyarakat, serta menyiapkan tenaga medis. Capaian imunisasi juga tercatat tinggi, yakni MR2 mencapai 100 persen dan MR1 sebesar 99 persen.
Jika hasil laboratorium nantinya mengonfirmasi adanya kasus campak dan berpotensi menyebar, pemerintah akan melakukan langkah Outbreak Response Immunization (ORI) guna mencegah penyebaran lebih luas.

