MAGETAN – Menjelang perayaan Idulfitri, banyak warga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan, termasuk pakaian yang akan dikenakan saat Lebaran. Momen ini juga menjadi berkah bagi seorang penjahit di kawasan Pasar Sayur Magetan yang tetap bertahan dengan profesi turun-temurun keluarganya.
Di sebuah lapak sederhana di kompleks pasar tersebut, suara mesin jahit milik Budiono terdengar hampir setiap hari. Ia menawarkan jasa permak pakaian bagi para pengunjung pasar yang ingin memperbaiki atau menyesuaikan pakaian menjelang Lebaran.
Menariknya, mesin jahit yang digunakan Budiono bukanlah mesin biasa. Alat tersebut telah digunakan selama tiga generasi dalam keluarganya, mulai dari kakek, orang tua, hingga kini diteruskan olehnya. Mesin itu menjadi saksi perjalanan panjang profesi menjahit yang menjadi sumber nafkah keluarganya.
Sebelumnya, Budiono sempat membuka jasa menjahit di Pasar Baru Magetan. Namun setelah pasar tersebut mengalami renovasi besar, ia tidak lagi mampu menyewa lapak di dalam pasar. Ia kemudian memilih pindah ke kompleks Pasar Sayur Magetan dengan biaya retribusi yang lebih terjangkau.
Meski hanya menerima jasa permak pakaian dengan tarif sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, pekerjaan tersebut mampu menopang kehidupan keluarganya. Bahkan, dari hasil menjahit, Budiono berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Bagi Budiono, menjahit bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan keterampilan keluarga yang telah dijalani selama tiga generasi. Ia pun berharap lapak di kawasan pasar tempatnya berjualan saat ini dapat lebih diperhatikan, terutama dari sisi penataan dan kebersihan, agar pelanggan merasa lebih nyaman.










