Kisah inspiratif datang dari seorang penjual kopi di Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kabupaten Ponorogo. Ia adalah Wahyudi Gecol, yang bersama istrinya berhasil menjadi calon jemaah haji tahun ini.
Bersama sang istri, Siti Setiana Wati, Wahyudi menabung dari hasil berjualan kopi seduh sejak tahun 2004. Dengan ketelatenan dan kesabaran, keduanya akhirnya mampu mewujudkan impian berangkat ke Tanah Suci.
Di warung kopi sederhana khas zaman dulu, Wahyudi setiap hari menyeduh kopi dari cangkir ke cangkir. Dari usaha kecil tersebut, ia menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin demi biaya ibadah haji.
Pasangan ini mendaftar haji pada 10 Oktober 2012. Sejak saat itu, mereka konsisten menabung sekitar Rp500 ribu setiap bulan hingga biaya perjalanan haji dapat dilunasi.
Sebelumnya, sang istri lebih dulu memulai kebiasaan menabung secara sederhana dengan menyisihkan uang hasil jualan harian ke dalam kaleng biskuit. Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp50 ribu, dan dilakukan selama lima tahun tanpa sepengetahuan suaminya.
Tabungan tersebut kemudian menjadi langkah awal untuk mendaftar haji, yang selanjutnya dilanjutkan dengan disiplin menabung setiap bulan.
Meski sempat diliputi kekhawatiran terkait kondisi geopolitik di Timur Tengah, pasangan ini tetap mantap berangkat dengan keyakinan dan doa.
Wahyudi dan Siti tergabung dalam kelompok terbang 19 jemaah haji Kabupaten Ponorogo, dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 26 April 2026 mendatang.










