Fenomena El Nino diperkirakan kembali terjadi dan berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Magetan. Kondisi ini memicu kewaspadaan dini karena berisiko menimbulkan kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi ekstrem yang kerap disebut El Nino “Godzilla”, dampaknya bisa meluas dan berlangsung lebih lama.
Berdasarkan prediksi BMKG, fenomena ini diperkirakan mulai terasa pada April atau Mei, dengan puncak dampak saat musim kemarau dan berpotensi berlangsung hingga Agustus, bahkan bisa memanjang sampai akhir tahun.
Menanggapi potensi tersebut, BPBD Kabupaten Magetan telah melakukan langkah antisipasi, salah satunya melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan. Hasilnya, Kecamatan Karas dan Lembeyan menjadi daerah paling rentan akibat keterbatasan sumber air.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan, Eka Wahyudi, menyebut potensi kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, terutama di kawasan pegunungan seperti Gunung Lawu dan Gunung Bancak yang memiliki vegetasi kering.
BPBD pun menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari droping air bersih, sosialisasi penghematan air, hingga patroli intensif di wilayah rawan.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan pembakaran lahan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api, agar dampak El Nino dapat ditekan dan risiko bencana dapat diminimalisir.










