Jeritan Guru Honorer, Mengabdi Bertahun-tahun dengan Gaji 500 Ribu Berujung Tak Masuk Dapodik
PONOROGO – Lebih dari 1.000 guru honorer di Kabupaten Ponorogo dilaporkan tidak terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tahun 2026. Kondisi ini membuat sejumlah guru harus menerima kenyataan pahit, karena status tersebut menjadi salah satu syarat utama untuk mengikuti seleksi ASN.
Salah satu yang terdampak adalah Mahmud Danuri, guru honorer di SMPN 1 Selahung. Ia telah mengabdi selama lima tahun dengan upah sekitar 500 ribu rupiah per bulan. Meski penghasilan yang diterima jauh dari cukup untuk kebutuhan hidup, ia tetap bertahan karena mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan harapan dapat menjadi ASN di masa depan.
Namun harapan tersebut belum terwujud, setelah namanya tidak tercatat dalam Dapodik tahun ini. Kondisi itu membuatnya tidak dapat memenuhi salah satu syarat penting untuk mengikuti seleksi CPNS maupun PPPK.
Mahmud mengaku hanya bisa menerima kondisi tersebut sambil berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terhadap nasib guru honorer yang belum masuk dalam sistem data pendidikan nasional.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menyebut penambahan data ke Dapodik tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Kebijakan tersebut merupakan aturan pemerintah pusat yang juga berkaitan dengan pengendalian anggaran belanja pegawai daerah yang saat ini mencapai sekitar 37 persen, dan ditargetkan kembali ke batas ideal 30 persen.
Pemerintah daerah berharap ada solusi yang tetap memperhatikan kesejahteraan guru honorer tanpa mengganggu stabilitas fiskal daerah.






