Luas Tanam Kedelai Menyempit, Magetan Bergantung Impor

MAGETAN – Luas lahan tanam kedelai di Kabupaten Magetan terus mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, luas tanam kedelai tercatat hanya sekitar 214 hektare, sehingga produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dan masih bergantung pada pasokan impor.

Hamparan sawah di sejumlah wilayah Magetan kini jarang ditanami kedelai. Komoditas palawija yang dulu menjadi andalan petani tersebut perlahan mulai ditinggalkan.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan, lahan kedelai yang tersisa tersebar di lima kecamatan, di antaranya Kecamatan Barat, Kartoharjo, dan sekitarnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Magetan, Romandhon, menjelaskan penurunan produksi kedelai sudah terjadi sejak 2022. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya lagi dukungan program maupun anggaran pengembangan palawija dalam APBD kabupaten maupun provinsi.

Selain itu, rendahnya produktivitas dan harga jual kedelai juga menjadi faktor utama petani beralih ke komoditas lain. Dalam satu hektare lahan, produksi kedelai hanya berkisar antara 1,6 hingga 2,6 ton.

Sementara harga jual kedelai di tingkat petani pada 2022 hanya sekitar Rp7.000 per kilogram. Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani.

Akibatnya, banyak petani kini lebih memilih menanam padi yang dianggap lebih menguntungkan. Dampaknya, kebutuhan kedelai di pasar lebih banyak dipenuhi dari impor.

Meski demikian, tanaman palawija lain seperti kacang tanah dan kacang hijau masih tetap ditanam, meskipun dalam skala terbatas dan umumnya hanya sekali dalam setahun.

Dinas terkait menyebut, tanpa adanya dukungan program dan jaminan harga yang stabil, minat petani untuk menanam kedelai diperkirakan akan terus menurun. Padahal, kebutuhan kedelai untuk industri dan konsumsi masyarakat masih tergolong tinggi.

Share
Tutup