Geram Bau dan Asap Sampah, Warga Segel TPS Parang

MAGETAN – Puluhan warga di Kelurahan Parang, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, meluapkan kekesalan terhadap keberadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah yang dinilai menimbulkan pencemaran lingkungan. Sebagai bentuk protes, warga menyegel lokasi TPS karena bau menyengat, serbuan lalat, hingga asap pembakaran sampah yang dianggap mengganggu kesehatan masyarakat.

Aksi penyegelan dilakukan warga dari tiga wilayah terdampak, yakni Lingkungan Wadung, Ngaglik, dan Ngunut. Mereka menilai kapasitas TPS sudah tidak lagi mampu menampung volume sampah yang terus masuk setiap hari.

Selama ini TPS dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan lima petugas yang bertugas memilah dan mengangkut sampah. Setiap hari, lokasi tersebut menerima sekitar enam unit kendaraan viar pengangkut sampah. Satu unit viar diperkirakan membawa lebih dari dua kuintal sampah, sementara jumlah pelanggan yang membayar retribusi mencapai sekitar 500 hingga 600 anggota.

Menurut warga, penumpukan sampah menyebabkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, populasi lalat juga meningkat dan mulai masuk ke kawasan permukiman. Keluhan warga semakin memuncak setelah seorang warga dikabarkan mengalami sesak napas dan harus menjalani perawatan di unit gawat darurat yang diduga dipicu asap pembakaran sampah.

Warga juga menyoroti dugaan masuknya sampah dari luar wilayah Parang ke TPS tersebut. Mereka mendesak pemerintah segera menyiapkan lokasi pengganti yang lebih layak dan tidak berada di dekat kawasan permukiman penduduk.

Sementara itu, pihak Kelurahan Parang menyebut penolakan warga sebenarnya sudah muncul sejak TPS dipindahkan dari area Sirkuit Parang ke lokasi yang digunakan saat ini. Namun karena belum tersedia lahan alternatif, TPS tetap beroperasi hingga sekarang.

Pasca aksi penyegelan, aktivitas TPS untuk sementara dihentikan sambil menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan. Pemerintah kelurahan juga mengaku akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menindaklanjuti tuntutan warga.

Masyarakat berharap solusi dapat segera ditemukan agar persoalan sampah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tidak kembali memicu konflik sosial maupun gangguan kesehatan bagi warga sekitar.

Share
Tutup