Musim Kemarau Dongkrak Produksi Batu Bata di Madiun, Perajin Terkendala Bahan Baku
Madiun – Musim kemarau membawa dampak positif bagi perajin batu bata di Kabupaten Madiun. Cuaca panas mempercepat proses pengeringan sehingga produksi meningkat dibandingkan saat musim hujan. Namun, di balik peningkatan produksi tersebut, para perajin mengaku kesulitan memperoleh tanah sebagai bahan baku utama.
Salah satu perajin, Nur Setiawan, warga RT 36 RW 14 Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, merasakan manfaat musim kemarau terhadap kelancaran proses produksi batu bata.
Menurutnya, cuaca panas membuat proses pengeringan berlangsung lebih cepat sehingga batu bata dapat segera dibakar dan dipasarkan. Di sisi lain, ketersediaan tanah sebagai bahan baku semakin terbatas sehingga menjadi tantangan bagi para perajin.
Pada musim kemarau, Nur Setiawan mampu memproduksi sekitar 1.000 batu bata per hari. Dalam satu bulan, jumlah produksinya mencapai sekitar 12.000 batu bata. Sementara itu, saat musim penghujan, produksi turun menjadi sekitar 7.000 hingga 8.000 batu bata per bulan karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.
Meski produksi meningkat, harga jual batu bata masih relatif stabil, yakni berkisar Rp600 ribu hingga Rp650 ribu per 1.000 biji, atau tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam satu siklus produksi, proses pembakaran dilakukan satu kali setiap bulan dengan durasi sekitar 10 hari. Hasil produksi kemudian dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk hingga Kabupaten Bojonegoro.
Para perajin berharap pasokan bahan baku tanah tetap tersedia agar peningkatan produksi pada musim kemarau dapat terus dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan pasar serta menjaga keberlangsungan usaha mereka.






