Serapan Telur Tertekan, DPRD Magetan Bawa Aspirasi Peternak ke Pusat
MAGETAN — Persoalan serapan telur menjadi salah satu isu utama dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang difasilitasi Komisi B DPRD Magetan, Jawa Timur. Perwakilan peternak, organisasi perangkat daerah, serta instansi terkait duduk bersama membahas berbagai persoalan yang dihadapi peternak ayam petelur.
Sejumlah persoalan yang dibahas meliputi serapan produksi, harga telur, populasi ayam, harga pakan, hingga kendala perizinan pembangunan kandang baru. RDP yang berlangsung lebih dari dua jam tersebut menyoroti serapan pasar sebagai salah satu persoalan yang paling membutuhkan perhatian.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya menjadi salah satu potensi pasar bagi produk telur peternak lokal. Namun, berdasarkan aspirasi yang disampaikan dalam RDP, serapan telur melalui program tersebut masih relatif minim.
Jumlah telur yang terserap untuk kebutuhan MBG dinilai belum sebanding dengan total produksi peternak di Magetan. Kondisi tersebut membuat program MBG belum memberikan pengaruh signifikan terhadap serapan telur secara keseluruhan.
Akibatnya, peternak masih bergantung pada pasar umum, sementara produksi telur terus berlangsung setiap hari. Ketika serapan pasar terbatas, harga telur di tingkat peternak juga berisiko mengalami tekanan.
Di sisi lain, biaya produksi, terutama pakan, masih menjadi beban besar bagi peternak. Peternak juga menyoroti persoalan populasi ayam petelur serta pengembangan usaha, termasuk rencana pembangunan kandang baru.
Terkait pembangunan kandang, pemerintah daerah menegaskan bahwa setiap pembangunan harus sesuai dengan regulasi. Jika tidak memenuhi peruntukan lahan maupun persyaratan perizinan, izin pembangunan kandang tidak akan diterbitkan.
Dari RDP tersebut, sejumlah kesepakatan turut dihasilkan. Perwakilan peternak bersama Komisi B DPRD Magetan akan bertolak ke Jakarta untuk menemui Komisi IV DPR RI.
Aspirasi peternak Magetan akan disampaikan secara langsung, terutama terkait serapan telur, harga, pakan, populasi ayam, serta penguatan pasar bagi produk peternak lokal.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pemerintah pusat mencari solusi untuk memperluas serapan telur, termasuk mengoptimalkan potensi Program MBG. Dengan demikian, produksi peternak lokal diharapkan tidak hanya terserap dalam jumlah terbatas, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan usaha peternakan di Magetan.






