Tradisi Keduk Beji, Warga Jaga Sumber Air Sekaligus Dorong Wisata Budaya Ngawi

NGAWI – Tradisi Keduk Beji yang digelar warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, tidak sekadar menjadi ritual tahunan. Tradisi membersihkan sendang atau sumber air tersebut menjadi bentuk pelestarian lingkungan sekaligus daya tarik wisata budaya.

Pelaksanaan Keduk Beji dipusatkan di kawasan Taman Wisata Tawun. Ritual adat ini menjadi simbol kepedulian warga dalam menjaga kelestarian sumber air sekaligus ungkapan rasa syukur atas berkah alam yang selama ini memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Ngawi turut memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi dan budaya lokal tersebut. Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menyebut Keduk Beji merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai penting tentang keharmonisan antara manusia dan lingkungan.

Menurutnya, Keduk Beji bukan sekadar kegiatan membersihkan sendang, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertahankan nilai-nilai budaya dan gotong royong masyarakat.

“Tradisi Keduk Beji bukan hanya membersihkan sendang atau mata air, tetapi merupakan warisan leluhur yang mengajarkan keharmonisan dengan lingkungan. Nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat juga menjadi bagian penting dari tradisi ini,” ujar Dwi Rianto Jatmiko berdasarkan materi wawancara.

Pelestarian Keduk Beji mendapat dukungan dari Pemkab Ngawi melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud).

Selain menjadi tradisi budaya, momentum Keduk Beji juga dipadukan dengan agenda Pasar Jadoel yang rutin digelar setiap Ahad Legi di kawasan Taman Wisata Tawun.

Pasar Jadoel menghadirkan beragam kuliner dan suasana tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Perpaduan antara tradisi, wisata, dan kuliner lawasan tersebut mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah, seperti Madiun, Magetan, Bojonegoro, hingga Surakarta.

Dari sisi pariwisata, sinergi antara pelestarian budaya dan promosi wisata tersebut turut memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar.

Pada hari biasa, jumlah kunjungan ke Taman Wisata Tawun berada di kisaran 200 hingga 400 orang. Namun, saat momentum Keduk Beji yang bertepatan dengan Pasar Jadoel, jumlah wisatawan meningkat hingga sekitar 3.000 pengunjung.

“Kalau hari biasa kunjungan sekitar 200 sampai 400 orang. Ketika ada Keduk Beji dan Pasar Jadoel, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 3.000 orang,” kata Dwi.

Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari kepadatan pengunjung yang memenuhi kawasan wisata hingga puncak acara berupa gunungan tumpeng.

Melalui pelestarian Keduk Beji dan pengembangan kegiatan pendukung seperti Pasar Jadoel, tradisi masyarakat tidak hanya tetap hidup, tetapi juga berkembang menjadi potensi wisata budaya yang mampu menggerakkan ekonomi lokal Kabupaten Ngawi.

Share
Tutup