Jejak Moksa Brawijaya V, Menyusuri Jalur Tertua Gunung Lawu

MAGETAN – Menjelang datangnya bulan Muharam atau Suro, Gunung Lawu kembali menjadi tujuan banyak pendaki dan peziarah. Di antara berbagai jalur pendakian yang ada, jalur klasik Singolangu di Kabupaten Magetan menyimpan daya tarik tersendiri karena memadukan keindahan alam dengan cerita sejarah dan legenda yang telah diwariskan turun-temurun.

Jalur pendakian Singolangu yang memiliki panjang sekitar delapan kilometer dikenal sebagai salah satu rute tertua menuju puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu. Jalur ini melintasi kawasan hutan pinus dan cemara yang masih alami serta menawarkan suasana pendakian yang berbeda dibandingkan jalur lainnya.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jalur Singolangu diyakini sebagai rute yang pernah dilalui Prabu Brawijaya V dalam perjalanan spiritualnya menuju Gunung Lawu. Kisah tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari identitas dan daya tarik jalur pendakian tersebut.

Beberapa titik di sepanjang jalur juga kerap dikaitkan dengan cerita perjalanan sang raja Majapahit terakhir. Di antaranya Sendang Sanggar yang berada di kawasan basecamp, Watu Lapak yang berupa batu menyerupai pelana kuda, hingga Sendang Banyu Urip yang menjadi sumber mata air alami di Pos Dua. Bagi sebagian pengunjung, lokasi-lokasi tersebut memiliki nilai sejarah dan spiritual tersendiri.

Pengelola Jalur Klasik Singolangu, Dedi Renaldi, mengatakan jumlah pengunjung biasanya meningkat menjelang bulan Suro. Selain pendaki, banyak peziarah yang datang untuk berziarah maupun menjalankan laku tirakat sesuai keyakinan masing-masing.

Meski demikian, pengelola tetap menerapkan registrasi dan memberikan pengarahan kepada seluruh pengunjung demi menjaga keselamatan selama berada di kawasan Gunung Lawu.

Dibandingkan jalur pendakian lainnya, Singolangu memiliki karakter medan yang lebih menantang dengan vegetasi yang rapat dan suasana yang masih alami. Karena itu, pendaki pemula disarankan tidak melakukan pendakian sendirian serta memastikan kondisi fisik dan perlengkapan telah dipersiapkan dengan baik.

Di tengah berkembangnya wisata pendakian modern, Jalur Klasik Singolangu tetap mempertahankan pesonanya sebagai perpaduan antara keindahan alam, cerita rakyat, dan warisan budaya lokal. Hal tersebut menjadikan jalur ini sebagai pilihan menarik bagi mereka yang ingin menikmati sisi lain Gunung Lawu.

Share
Tutup