Merawat Warisan Leluhur Lewat Jamasan Wayang
MAGETAN – Bulan Suro tidak hanya identik dengan berbagai ritual dan tradisi masyarakat Jawa. Di Kabupaten Magetan, sebuah sanggar seni tetap setia menjaga warisan budaya melalui tradisi jamasan. Menariknya, yang dibersihkan bukan keris atau pusaka, melainkan ratusan wayang kulit dan seperangkat gamelan yang telah berusia puluhan tahun.
Satu per satu wayang kulit dikeluarkan dari kotak penyimpanan di Sanggar Seni dan Edukasi Sapto Puspo Budoyo, Desa Ngujung, Maospati. Koleksi wayang lawas tersebut kemudian dibersihkan oleh para seniman dengan penuh ketelatenan melalui tradisi yang dikenal sebagai jamasan, yakni kegiatan merawat dan membersihkan benda-benda pusaka yang secara turun-temurun dilakukan masyarakat Jawa setiap bulan Suro.
Sebelum proses dimulai, para peserta terlebih dahulu menggelar doa dan selamatan sederhana sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar warisan budaya tetap terjaga dengan baik. Wayang yang berusia puluhan tahun itu kemudian diangin-anginkan dan dibersihkan menggunakan kuas halus agar tidak merusak tekstur kulit maupun warna cat pada wayang.
Tak hanya wayang, seperangkat gamelan juga mendapatkan perawatan khusus dengan membersihkan bagian permukaannya menggunakan watu ijo agar kembali berkilau dan menghasilkan suara yang tetap nyaring saat dimainkan. Saat ini, sanggar tersebut menyimpan sekitar 250 wayang kulit, sebagian besar merupakan koleksi lawas era 1950 hingga 1960-an.
Bagi para seniman, jamasan bukan sekadar membersihkan benda seni, tetapi juga menjadi pengingat agar generasi muda tetap mengenal akar budaya dan menghargai karya leluhur. Di tengah gempuran budaya modern dan teknologi digital, tradisi ini menjadi upaya sederhana namun bermakna dalam menjaga identitas budaya serta merawat nilai-nilai warisan leluhur.






