Kerupuk Sermier, Dulu Penerima PKH Kini Tembus Pasar Dunia
MAGETAN – Berawal dari seorang penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Siti Aminah kini berhasil membangun usaha olahan singkong yang mampu menembus pasar internasional. Usaha kerupuk khas bernama Sermier yang dirintisnya dari rumah sederhana di Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, kini menghasilkan omzet hingga Rp4 juta sampai Rp5 juta per hari.
Aktivitas produksi kerupuk berlangsung setiap hari di rumah produksi miliknya. Aroma gurih kerupuk yang baru diangkat dari penggorengan menjadi bagian dari rutinitas usaha yang terus berkembang dari skala rumahan menjadi produk unggulan daerah.
Perjalanan usaha tersebut bermula pada tahun 2014 saat Siti Aminah mengikuti pelatihan kewirausahaan bagi keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Bersama sejumlah peserta lainnya, ia memulai usaha secara berkelompok. Namun tiga tahun kemudian, sebagian besar anggota kelompok memilih kembali bekerja di sektor pertanian sehingga pada tahun 2017 Siti Aminah memutuskan melanjutkan usaha tersebut secara mandiri.
Memanfaatkan melimpahnya hasil singkong di desanya, Siti Aminah mengembangkan kerupuk khas yang diberi nama Sermier. Pada awal produksi, pemasarannya hanya menjangkau warung dan angkringan di sekitar desa. Namun berkat ketekunan serta aktif mengikuti berbagai pameran dan bazar UMKM, produk tersebut semakin dikenal masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, pemasaran Kerupuk Sermier terus meluas hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur. Bahkan produk tersebut berhasil menembus pasar internasional dengan tujuan pemasaran ke sejumlah negara seperti Maladewa, Pakistan, Hong Kong, dan Brunei Darussalam.
Siti Aminah mengaku saat ini pengiriman ke beberapa negara mengalami kendala akibat situasi geopolitik global. Meski demikian, proses produksi tetap berjalan normal untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun luar negeri.
Selain Kerupuk Sermier, rumah produksi milik Siti Aminah kini juga menghasilkan sedikitnya 12 jenis olahan pangan berbahan baku lokal. Kisahnya menjadi contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pengembangan usaha, dari penerima bantuan sosial hingga menjadi pelaku UMKM yang mampu bersaing di pasar internasional.






