Luas Tanam Tembakau di Magetan Turun hingga 50 Persen, Petani Beralih ke Komoditas Lain

Magetan – Luas tanam tembakau di Kabupaten Magetan pada musim tanam 2026 mengalami penurunan signifikan. Dibandingkan tahun lalu yang mencapai sekitar 750 hektare, tahun ini luas tanam diperkirakan menyusut hingga 40–50 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi anomali cuaca serta menurunnya minat petani akibat pengalaman buruk pada musim panen sebelumnya.

Di sejumlah sentra produksi tembakau, seperti Kecamatan Parang serta kawasan lereng Gunung Lawu yang meliputi Plaosan, Poncol, dan Sidorejo, banyak lahan yang biasanya ditanami tembakau kini beralih ke komoditas lain. Kondisi ini menjadi salah satu penurunan luas tanam terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Selain anomali cuaca yang menyebabkan curah hujan masih tinggi saat memasuki musim tanam, petani juga masih dibayangi kerugian pada musim panen tahun 2025. Saat itu, harga tembakau daun basah sempat anjlok hingga berkisar Rp3.000–Rp5.000 per kilogram. Kondisi cuaca juga menyebabkan kualitas atau grade tembakau menurun sehingga hasil panen tidak maksimal.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Magetan, Siswanto, mengatakan banyak petani memilih mengalihkan lahannya untuk menanam kentang karena dinilai memiliki harga yang lebih stabil dan risiko usaha yang lebih kecil.

“Tahun ini memang banyak petani yang memilih tidak menanam tembakau. Selain faktor cuaca yang belum mendukung, mereka juga masih trauma dengan harga dan kualitas tembakau pada musim lalu. Akhirnya, sebagian besar beralih menanam kentang karena dinilai lebih menguntungkan,” ujar Siswanto.

Meski demikian, Siswanto menyebut harga tembakau daun basah mulai menunjukkan perbaikan dan kini berada di kisaran Rp7.000 per kilogram. Ia memperkirakan harga masih berpotensi meningkat seiring rencana sejumlah vendor, seperti Djarum, membuka gudang pembelian pada Agustus mendatang.

Namun, kenaikan harga tersebut belum mampu mendorong petani untuk kembali memperluas areal tanam pada musim ini. Petani berharap kondisi cuaca lebih stabil dan harga pembelian dari vendor terus meningkat saat musim panen tiba sehingga minat menanam tembakau dapat kembali pulih pada musim tanam berikutnya.

Share
Tutup